"Selamat Datang di JARBIM BLOG"

Kamis, 11 Maret 2010

Bribin 2 part 1

Proyek Bribin II yang telah berhasil mengangkat air dari sungai bawah tanah Goa Bribin di Semanu, Gunung Kidul lebih banyak dimanfaatkan sebagai wahana penelitian bagi orang asing. Proyek yang dibiayai olehKementerian Pendidikan dan Penelitian (BMBF) Jermansenilai 3,2 juta euro tersebut telah menghasilkan tujuh master atau lulusan S2 dari berbagai universitas di Jerman.

Padahal bendungan air bawah tanah pertama di dunia ini tidak hanya didanai oleh Pemerintah Jerman, tetapi juga oleh Pemerintah Indonesia. Meskipun peluang penelitian terbuka lebar, minat peneliti lokal masih rendah. Selain bertujuan memenuhi kebutuhan air bagi penduduk Gunung Kidul, menurut Wakil Tim Universitas Karlsruhe Jerman untuk Proyek Bribin II, Solichin, Proyek Bribin II ini memang ditujukan untuk demonstrasi penelitian.

"Hingga kini, peneliti-peneliti dari beragam universitas di Indonesia atau bahkan Yogyakarta masih belum memanfaatkan Proyek Bribin II untuk menimba ilmu pengetahuan baru. Kami membuka diri bagi siapa saja yang ingin turut meneliti di Bribin. Terutama tentang pengelolaan air di wilayah kars," ujar Solichin, Kamis (4//2/2010).

Studi tentang bendungan sungai bawah tanah di wilayah kars ini sudah dilirik oleh beberapa negara di Asia Tenggara. Vietnam dan Laos, misalnya, telah menyatakan minat untuk mengadopsi teknologi Proyek Bribin II untuk pembangunan bendungan serupa di kawasan perbukitan kars yang porositasnya tinggi.

Iswantoro dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)Yogyakarta juga menyayangkan rendahnya minat peneliti Indonesia. Padahal, proyek pengangkatan air di Goa Bribin ini diawali riset yang dilakukan oleh BATAN sejak tahun 2002 dengan menggunakan zat radio aktif untuk mengetahui interkoneksi aliran air di dalam goa bawah tanah.

Menurut Iswantoro, peneliti lokal cenderung malas untuk meneliti sekaligus berpetualang di dalam goa bawah tanah. Mahasiswa dari Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir BATAN Yogyakarta juga sama sekali tidak terlibat dalam penelitian lanjutan di Bribin."Saya melihat peneliti lokal masih malas dan ogah-ogahan. Padahal peluang terbuka," kata Iswantoro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar