"Selamat Datang di JARBIM BLOG"

Sabtu, 05 September 2009

Museum Kereta Kraton Yogyakarta

Setelah berkunjung ke Museum Kereta Kraton Yogyakarta, kami melanjutkan ke Museum Kraton Yogyakarta yang letaknya berdekatan. Memasuki museum ini, kami membayar biaya masuk seharga Rp 5.000,- dan kamera Rp 1.000,-. Selain itu para pengunjung disediakan pemandu yang akan menjelaskan isi museum.

Museum ini terletak di tengah kota Yogyakarta. Museum ini dibuka untuk umum setiap hari kecuali pada saat terdapat upacara. Museum buka mulai jam 08.30 hingga 14.00 wib, kecuali hari Jumat yang buka hingga pukul 13.00 wib. Selain benda-benda budaya dan arsitektur, pengunjung juga dapat melihat pertunjukan seperti macapat, kerawitan, wayang kulit, serta wayang orang, yang dipentaskan di bangsal Sri Manganti, sekitar pukul 10.00-12.00.

Gerbang Danapratapa

Tempat pertama yang kami lewati adalah Bangsal Sri Manganti yang terletak di sebelah kanan gerbang di pelataran Sri Manganti. Di dalam Bangsal Sri Manganti sedang digelar pertunjukan wayang kulit. Kemudian kami melanjutkan ke arah dalam. Melewati gerbang yang dinamakan gerbang Danapratapa.

Gerbang Danapratapa pada dinding bagian dalam gerbang tergantung lambang Kraton Yogyakarta yang disebut Hobo, dari dua karakter huruf Jawa “ha” dan “ba” atau HB dalam aksara latin, yang merupakan singkatan dari gelar sultan-sultan Yogyakarta, Hamengku Buwono. Arti dari gelar Hamengku Buwono sendiri secara literal adalah “memangku alam raya”

Di dalam Gerbang Danapratapa terdapat sebuah pelataran yang lebih luas dari pelataran Sri Manganti yaitu dinamakan Pelataran Dalam. Pelataran Dalam merupakan bagian inti Kraton Yogyakarta di mana terdapat bangunan-bangunan utama yang sebagian besar diantaranya tidak bisa dimasuki umum, termasuk Gedong Kuning yang menjadi tempat tinggal Sultan dan Bangsal Prabayeksa, tempat paling sakral di Kraton yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan pusaka-pusaka dan perhiasan milik Keraton yang paling keramat dan bernilai.

Gedong Kuning Bangunan Tempat Tinggal Sultan

Terdapat beberapa bangsal antara lain Bangsal Prabayeksa, Bangsal Kencana dan Bangsal Manis. Bangsal Kencana dipakai untuk acara penobatan Sultan dan menerima tamu-tamu penting Kesultanan. Bangsal Manis, yang terletak lebih di muka, dimanfaatkan untuk menggelar perjamuan atau pesta untuk para tamu Sultan. Kayu-kayu yang dijadikan tiang dan kaso bangsal diukir dengan stilir sulur-suluran yang indah dan dicat dengan warna dominan hijau, kuning gading dan merah bata, warna-warna tradisional yang banyak ditemui di Kraton Yogyakarta.

Menurut pemandu, Bangsal Kencana pernah digunakan untuk menyambut tamu negara maupun kerajaan dari luar negeri seperti Pangeran Charles dan Hilari Clinton.

Memasuki Museum Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang dibangun pada tahun 1992, saat kami memasuki ruangan pertama yang berdinding kaca terdapat beberapa kursi dan meja. Setelah diamati ternyata meja kursi yang digunakan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan para pejuang kemerdekaan untuk merencanakan Serangan Oemoem Satu Maret di Yogyakarta. Selain itu terdapat koleksi meja kantor Sri Sultan Hamengku Buwono IX beserta benda-benda lain seperti jam antik, piagam, lampu, dan sebagainya.

Annosmile di Museum HB IX

Kemudian kami memasuki ruangan selainjutnya, didalamnya terdapat koleksi benda-benda Sri Sultan Hamengkub owono IX seperti jam antik, baju jendral, mainan Sultan saat masih kanak-kanak, kamera kuno, dokumen kuno, dan sebagainya.

Di ruangan terakhir terdapat koleksi Sri Sultan Hamengkuwono IX menjadi bapak Pramuka, seperti baju pramuka, topi pramuka, foto-foto saat Sri Sultan membina Pramuka. Selain itu terdapat koleksi bintang penghargaan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari pemerintahan dan kerajaan di luar negeri. Ternyata Sultan Hamengku Buwono IX ini terkenal di seluruh dunia.

Memasuki ruangan terakhir, terdapat beberapa replika. Replika ampilan dalem yang mengapit lukisan dirinya terdiri atas sembilan macam benda yang konon aslinya terbuat dari emas bertatahkan permata. Lima diantaranya berwujud hewan, yakni angsa (banyak), rusa (dalang), ayam jantan (sawung), merak (galing) dan naga (ardawalika). Empat benda lainnya adalah sapu tangan emas (kacu mas), kutuk (sejenis ikan), lentera (kandil) dan wadah alat (saput). Ke sembilan benda tersebut masing-masing menyimbulkan watak yang harus dimiliki dan peran yang harus dipanggul seorang Sultan

Replika Hewan

Akhirnya kami meninggalkan Museum Sultan Hamengku Buwono IX. Melewati sebuah perempatan saat menuju ke arah Museum Batik. Kami dijelaskan sebuah jalan menuju ke arah tempat tinggal para putra Sultan yang dinamakan Bangsal Ksatriyan.

Museum Batik terletak di sebelah utara dari Museum Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Memasuki museum ini, para pengunjung dilarang mengambil foto atau video. Harapannya hasil karya Sultan ini tidak ditiru, diakui, dan diperjualbelikan di luar Kraton. Karena kerajinan batik hasil karya Sultan terdahulu sungguh merupakan warisan buadaya yang tidak ternilai harganya.

Para pengunjung hanya diperbolehkan melihat dan bertanya kepada sang pemandu atau penjaga museum. Selain itu, para pengunjung juga dilarang memegang atau menyentuh kain batik yang dipamerkan. Selain batik, terdapat sebuah sumur yang tidak digunakan lagi. Konon, sumur tersebut dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII.

Akhirnya kami selesai berkeliling museum dan kembali ke Bangsal Sri Manganti untuk melihat pertunjukan wayang yang telah berjalan separuh cerita.

-----------

Blog adalah hasil karya cipta. Dilarang mengkopi sebagian atau seluruh artikel di blog ini tanpa seizin annosmile

Maaf belum bisa berkunjung balik, sedang cuti ngeblog

Artikel yang Berkaitan

Tagged with: [ , , ]
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

69 Comments on “Mengunjungi Museum Kraton Yogyakarta”

1 komentar: