"Selamat Datang di JARBIM BLOG"

Selasa, 25 Agustus 2009

Yogyakarta . . . . .

Yogyakarta . . . . .

Pulang ke kotamu

ada setangkup haru dalam

rindu, masih seperti dulu

tiap sudut menyapa tuk

bersahabat penuh

selaksa makna..........

Lirik lagu diatas mengingatkan kita bahwa Yogyakarta merupakan kota yang penuh kenangan dan bersahabat. Masih seperti dulu, ya Yogya memang tidak berubah dari segi kultur sosial masyarakat. Citra Yogya tetap melekat dengan kekhasan budaya yang dimiliki, Yogya menawarkan keistimewaan tersendiri. Keistimewaan Yogya terletak pada struktur pemerintahan yang dikepalai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X sekaligus sebagai Raja yang bertahta di Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat.

Keraton sebagai pusat spiritualitas Jawa, atau magis menjadi pusat perkembangan budaya yang tidak pernah hilang. Keraton Yogya selalu mengangkat dan menyebarluaskan kebudayaan yang adiluhung. Pusat spiritual ini menjadi inspirasi atau panutan bagi masyarakat yang senantiasa menghargai kebudayaan. Aura atau wibawa keraton masih terpancar sampai saat ini. Itulah tradisi yang selalu ditunjung tinggi bahwa keraton menjadi pusat spiritual yang memberikan kenyamanan dan kedamaian. Keistimewaan yang lain adalah peranan Yogyakarta dalam pembentukan negara Indonesia dengan pengakuan dari PBB.

Dari sisi lain, Yogya dicitrakan sebagai kota pelajar karena terdapat banyak sekolah tinggi sampai universitas yang memberikan sarana pendidikan yang menarik orang muda untuk menuntut ilmu. Tentu saja banyak bermunculan tempat kost atau kontrakan bagi mereka yang tidak punya tempat tinggal di Yogya ini. Banyak kisah–kisah yang muncul dari kehidupan anak kost ini, dari percintaan sampai hamil diluar nikah, narkoba, sampai yang menjadi sarjana.

Tempat–tempat di Yogya memang punya kenangan tersendiri bagi para orang muda ini untuk hanya sekedar nongkrong. Dari utara sampai selatan, kemudian timur ke barat menawarkan banyak tempat untuk melepas kebosanan dan kejenuhan. Seperti diskotik bagi mereka yang suka dugem (dunia gemerlap/jojing), sampai kafe–kafe kecil dan angkringan Pak Man dengan harga murah, juga suasana yang remang–remang untuk bercengkrama atau lesehan pedagang kaki lima yang cukup banyak bertebaran. Tentu saja keunikan dan kekhasan dari masing–masing, orang muda banyak dimanjakan tempat nongkrong atau hanya sekedar tempat berbagi hati.

Kalau kita melihat lebih jeli lagi, Yogya sedikit mulai nampak ada perubahan dalam gaya hidup orang mudanya. Yogya tidak lepas dari pengaruh modernisasi yang mulai masuk dalam sendi kehidupan, dari fashion sampai pada kehadiran acara pentas musik, olah raga (Voli pantai di tengah kota, Crushbone, Skateboard, Futsal ), juga klub sepeda motor dengan varisasi yang menarik, rave party. Dari segi hiburan Yogya tidak kalah dengan kota besar yang lain. Hampir setiap bulan selalu ada acara yang digelar.

Untuk urusan makanan Yogya adalah tempatnya. Sebut saja sate karang di Kotagede, sate tengkleng, mie goreng/godog di hampir semua sudut kota ada. Kemudian ada soto Pak Tembong dan Pak Marto, mie ayam depan hotel Santika dan hotel Phonix, lesehan Pak Teguh yang sering jadi tempat nongkrong mahasiswa ada di depan hotel Melia Purosani. Lesehan pecel lele dengan lampu yang remang–remang serta romantis ada di Baciro. Di kawasan Seturan banyak bermunculan warung lesahan dengan menawarkan berbagai jenis makanan. Bagi yang suka bakso ada di depan RS Bethesda, depan kelenteng pasar Kranggan, dan kampung Samirono, yang suka daging anjing tentu saja ada di depan STM Jetis dan bioskop Mataram. Ada oseng–oseng mercon bagi yang suka pedas terletak di daerah Kauman. Masih banyak lagi tempat makan yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Yogya memang sudah berkembang pesat. Dari segi ekonomi perdagangan atau kebutuhan hidup muncul banyak mal. Dengan pelbagai produk yang dijual mal atau pusat perbelanjaan ini ingin menarik pembeli sebanyak mungkin dengan diskon khusus serta tawaran yang menarik. Selain itu, Mal serta pusat perbelanjaan dapat dijadikan tempat untuk sekedar cuci mata bagi yang senang melihat orang cantik, ganteng yang berseliweran. Tetapi dengan banyak munculnya mal atau pusat perbelanjaan, masih ada yang bertahan sampai sekarang yaitu pusat belanja tradisional yang sudah berumur puluhan tahun yaitu Pasar Beringharjo.

Dalam perkembangannya Yogya mengalami perubahan secara fisik yang jelas terlihat. Cukup disayangkan apabila banyak jalan yang diperlebar tetapi justru mempersempit ruang gerak bagi pejalan kaki. Dengan bertambahnya motor, mobil semakin menambah padat kota Yogya, terutama di siang hari. Kembali mengingat bahwa beberapa tahun silam Yogya menjadi kota sepeda atau andong. Dengan masih banyak pohon besar yang rindang menambah kesejukan apabila menapaki jalan–jalan di kota Yogya. Seiring pertumbuhan dari sebuah kota mungkin ada saja yang dikorbankan. Tetapi lebih dari pada itu ada saja yang tidak pernah hilang atau dilupakan orang yaitu Malioboro. Orang yang datang ke Yogya belum merasa mantap kalau tidak melihat Malioboro dengan segala aktivitasnya sehari–hari. Malioboro menjadi magnet bagi wisatawan domestik/mancanegara untuk dikunjungi. Di Malioboro inilah muncul banyak inspirasi dari para seniman dalam berkarya.

Dari sedikit cerita ini Yogya memberi banyak kenangan, kesan yang tidak terlupakan bagi orang–orang yang pernah tinggal atau sekedar berkunjung. Satu yang menarik bagi saya dengan melihat Yogya saat ini, kita tahu bahwa Yogya mengalami perkembangan arus zaman, tetapi ada saja yang tidak pernah hilang yaitu "setiap sudut selalu menyapa untuk bersahabat", seperti syair lagu yang dinyanyikan oleh Katon (Kla Project).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar